wirahadie.com

Kisah Laki-Laki yang Menikahi 2 Perempuan Sekaligus

Kisah Laki-Laki yang Menikahi 2 Perempuan Sekaligus

 Kisah Laki-Laki yang Menikahi 2 Perempuan Sekaligus
23 Mei, 2016 • Oleh Redaksi Lombok Post

PRAYA- Warga Desa Bonder Praya Barat Lombok Tengah Sabtu-Minggu, kemarin, mendadak heboh. Bukan karena ada temuan mayat, gempa bumi atau kebakaran rumah. Tapi, dihebohkan dengan pernikahan Hasan Basri. Pria bertubuh ceking ini ditemani dua istri sekaligus saat resepsi.

Polygami
Resepsi Basri dimulai tepat pada pukul 10.00 Wita, di kediamannya yang berada di Dusun Jurang Are Desa Bonder. Surat undangan dan foto resepsi pun mendadak beredar di dunia maya, hingga ratusan komentar berdatangan di halaman facebook.

Kehebohan itu terjadi karena Basri menikahi dua wanita di waktu bersamaan. Di samping kiri dan kanannya, ia diapit kedua istri tercintanya yaitu, Nurul Hidayati yang merupakan tetangga rumahnya di Dusun Masjuring Bonder dan Nurhidayatullah warga Desa Dasan Lekong, Lombok Timur.

Pernikahan ketiga mempelai itu pun berakhir setelah acara nyongkolan berlangsung meriah. Dengan menggunakan gendang beleq dan kecimol, Minggu (22/1) sore kemarin.

Secara bergiliran, mempelai laki-laki dan rombongan, mendatangi rumah keluarga mempelai perempuan.

Kini mereka hidup seperti pasangan suami istri pada umumnya. Mereka bertiga melangsungkan akad nikah di waktu yang berbeda, di tempat yang sama, di Masjid Jami’ Baiturrahman Desa Bonder atau berjarak 50 meter dari kantor desa.

Nurul Hidayati mendapatkan giliran pertama dinikahi Basri pada 10 April lalu, dengan mas kawin seperangkat alat salat, dan 40 gram emas dibayar tunai.

Konon pernikahan itu dilakukan atas dasar suka sama suka, mereka berpacaran sejak lama. Dari cerita paman Basri, yang juga tokoh agama desa setempat Ustad Maisun, pernikahan itu awalnya berjalan lancar, tidak ada masalah sedikit pun.

Namun, selang beberapa puluh jam kemudian, wanita asal Lotim datang dan dia tidak mau pulang kalau tidak dinikahi Basri. Singkat cerita, keluarga pun bermusyawarah, hingga istri pertama Basri menandatangani surat pernyataan siap dipoligami.

Pada 16 April lalu, diputuskanlah Basri dan Nurhidayatullah, melangsungkan akad nikah. Pernikahan kedua bagi Basri.

Di pernikahan keduanya itu, disiapkan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar Rp 2.662.000. Untuk biaya nyongkolan masing-masing Rp 10 juta.

Pantauan Lombok Post, suasana nyongkolan diselimuti kegembiraan dan kesedihan dari istri pertama. Namun, pihak keluarga memberikan semangat.

Nyongkolan dilaksanakan pada pukul 13.00 Wita di kediaman Nurul Hidayati. Di sepanjang jalan, warga tumpah ruah, hingga ada beberapa wisatawan asing yang mengabadikan pernikahan mereka tersebut.

30 menit kemudian atau pukul 13.30 Wita, rombongan menuju Lotim. Usai salat magrib atau sekitar pukul 18.35 Wita, rombongan kembali ke kediaman mempelai laki-laki.

Lombok Post pun berkunjung lagi, di tengah kehangatan pernikahan mereka, Ustad Maisun menceritakan kisah kasih tiga pasangan suami istri itu. Bagi dia, apa yang dilakukan keponakan tercintanya itu, tidak dilarang agama, adat atau hukum mana pun.

Karena, dasar pernikahan melalui akad nikah, dilaksanakan di waktu yang berbeda. Kecuali, resepsi dan nyongkolan itu saja. 
“Alhamdulillah, anak saya ini justru mengikuti sunah Rasul,” 
kilah Ustad Maisun.

Saat menyampaikan khotbah nikah pada akad nikah mereka masing-masing, pihaknya mengaku telah mengingatkan agar Basri wajib bersikap adil kepada kedua istri tercintanya. Menjaga keutuhan rumah tangga, tidak boleh pilih kasih dan berbeda kasih.

“Sampai saya ingatkan juga, kalau ada tamu suami yang berkunjung ke istri pertama, jangan dibawa ke istri kedua. Begitu pula seterusnya. Inilah salah satu makna adil itu,” ujarnya.

Secara kebetulan, tambah Ustad Maisun istri pertama Basri masih menyelesaikan studi di salah satu perguruan tinggi di Mataram. Sedangkan, istri kedua sudah mendapatkan gelar sarjana di Pulau Jawa, bersama suaminya pada tahun 2014 lalu.

Untuk sementara waktu, mereka tinggal bertiga. 
“Jika istri pertama berangkat ke Mataram, biasanya Basri menginap di kos istrinya. Kemudian, datang lagi ke rumah, untuk menemui istri kedua. Begitu seterusnya,” 
kata Ustad Maisun.

Saat perbincangan hangat Lombok Post, kedua istri Basri pun keluar rumah, mereka hanya melihat dari kejauhan. Nampak mereka sangat akur, layaknya adik dan kakak atau keluarga dekat. Sesekali Ustad Maisun, menunjuk kedua istri Basri.

Sementara itu, orang tua Basri yaitu, H Muhammas Sahri dan Basri sendiri, tidak banyak berbicara. Kecuali menceritakan perjalanan nyongkolan sembari menggunakan bahasa Sasak. Dalam beberapa hari kedepan, Basri kembali menjalani aktivitas seperti biasa, sebagai seorang perawat.
“Ini yang disebut perjalanan hidup. Karena, urusan jodoh, rizki dan kematian ada di tangan Sang Maha Pencipta. Semoga ada hikmahnya,” 
cetus Ustad Maisun.(*/r6)

Sumber : www.lombokpost.net
Quipper Video

Bagikan Artikel ini:

Komentar Anda

Copyright © 2015-2017. wirahadie.com - All Rights Reserved